Sunday, June 24, 2012

Pagelaran Matah Ati telah Menghipnotis Mata dan Hati



Sekuntum asmara antara seorang Pangeran dan seorang Gadis dari desa Matah, berbingkai keindahan cinta yang agung namun bersinggungan dengan kematian, semboyan sang Pangeranpun sangat tersohor membuat miris dan menggetarkan jiwa " Mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh " atau dalam arti bebasnya " Mati satu mati semua, berjaya satu berjaya semua ".
Memang itu bukan saja semboyan sang Pangeran dalam memaknai cinta kepada sang kekasih, namun lebih pada cinta yang lebih tinggi derajatnya, yaitu cinta kepada tanah tumpah darahnya, dalam mengobarkan semangat melawan penjajahan Kompeni Belanda.
Kini lakon kisah cinta klasik antara Raden Mas Sa'id dengan gadis Rubiyah yang terbalut dalam kisah  perjuangan melawan penjajah tersebut digarap secara kolosal, dalam pagelaran spektakuler di Taman Ismail Marzuki ( TIM ) pada 22 - 25 Juni 2012 ini, sebuah pagelaran Tari Jawa yang pernah mengguncang Teater Esplanade Singapura pada 2010.

Tuesday, June 19, 2012

Kabar Terakhir Situs Liyangan Temanggung ( part 2 )



Temanggung 20 Juni 2012, Kompleks Situs Liyangan, di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung setelah beberapa kali diekskavasi, dan melalui pemetaan awal kini dibagi menjadi tiga sektor.
Pembagian itu untuk memudahkan penilitian Ketua tim Peneliti Situs Liyangan, dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Sugeng Riyanto mengatakan, bagian pertama adalah sektor I berada di sekitar kompleks candi yang saat ini tengah dilakukan penggalian. Sektor II berada di perkampungan Liyangan, dan sektor III terletak di seberang sungai Tempurung.

Kabar Terakhir Situs Liyangan Temanggung ( part 1)

STRUKTUR SITUS LIYANGAN TERLIHAT.



Temanggung 19 Juni 2012, Struktur bangunan situs perkampungan Mataram Kuno abad X di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung semakin terlihat jelas, setelah sepekan ini kembali dilakukan eskavasi oleh balai Arkeologi Yogyakarta.

Tuesday, June 5, 2012

Sebuah Renungan di Hari Lingkungan Hidup ( part 2 )

6 Juni 2012




Berbicara mengenai Lingkungan Hidup ada baiknya kita tarik dulu ke belakang, tentang pola pikir dan sikap hidup masyarakat dalam memperlakukan lingkungannya. Umumnya di Negara manapun manusia cenderung mengedepankan egoism, ingin mendapatkan keuntungan lebih dalam mengeksplorasi alam tanpa memandang kerusakan yang ditimbulkannya. Namun apabila telah terjadi bencana akibat kerusakan itu, yang dilakukan adalah saling menyalahkan, sudah barang tentu yang disalahkan adalah pihak lain, sistemnya, aturannya dan sebagainya, padahal justru merekalah para pelanggar aturan itu.

Mari kita breakdown ke skala lebih keci lagi, di Negara kita. Mulailah kita tinggalkan cara saling menyalahkan, dan memulai dengan berbuat dan memperbaiki. Langkah pertama adalah memperbaiki pola pikir sikap dan perilaku yang salah. Masa yang paling baik atau golden opportunity untuk memasukkan nilai, untuk membentuk sikap dan perilaku seseorang, itu adalah pada masa ketika dia mengikuti pendidikan di taman kanak-kanak, di sekolah dasar, dan di sekolah menengah. Sembilan sampai dua belas tahun pertama, itu adalah masa yang paling berharga karena di situlah kita bisa membangun sikap dan perilaku seseorang, to create, values and behaviour. Itulah saat yang tepat untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan.
Langkah berikutnya adalah merubah system yang salah, menata kembali regulasi dan aturan pengelolaan sumber daya alam, diantaranya hutan.
Dalam konteks ini Pemerintah harusnya menetapkan sejumlah kebijakan dan aksi nyata untuk menjaga hutan. Beberapa hal menjadi kebijakan ataupun program aksi yang harus dilakukan adalah:

Sebuah Renungan di Hari Lingkungan Hidup ( part 1 )

6 Juni 2012


 
Sejak revolusi industri pada abad ke-18, bangsa-bangsa di dunia dalam mengejar pertumbuhan ekonominya, dan membangun negerinya melakukan cara-cara yang tidak benar. Ada kesalahan, ada kecerobohan, ada keserakahan di dalam menggunakan sumber-sumber kehidupan, akibatnya terjadilah kerusakan lingkungan. Itu realitas masa kini akibat apa yang dilakukan oleh umat manusia di masa lalu.

Apa yang akan terjadi ke depan, 30 tahun mendatang, keadaannya akan sungguh rawan dan bisa berbahaya. Mengapa? Penduduk dunia sekarang ini jumlahnya 7 miliar, akan meningkat menjadi 9 miliar manusia dalam waktu sekitar 30 tahun mendatang. Sampai ke era itu, masa itu diperlukan tambahan sumber pangan 70% dari yang ada sekarang ini, kebutuhan energi juga antara 60-70% dari yang kita konsumsi sekarang ini, di situlah persoalannya.

Dengan lingkungan yang sebagian telah rusak seperti ini sangat tidak mudah untuk meningkatkan produksi pangan 70% dari sekarang. Demikian yang dikatakan pakar yang mengerti tentang agriculture, tentang food security.
Untuk memenuhi 60% kebutuhan energi, telah  menguras begitu saja minyak, gas, dan batubara, maka yang terjadi adalah kerusakan lingkungan yang lebih parah lagi karena mengganggu iklim akan menimbulkan perubahan iklim dan pemanasan global, climate change and global warming.
Solusinya 7 miliar manusia harus sungguh sadar dan bekerja keras, serta cerdas mulai sekarang, tidak menunggu esok untuk betul-betul bersama-sama menyelamatkan lingkungan kita. Caranya tidak sulit sebetulnya, teorinya, tetapi implementasinya memerlukan kesungguhan yang luar biasa.