Monday, September 10, 2012

Legenda Posong dan Sejarah Pangeran Diponegoro




Kedu, hari Kamis titimongso 5 bulan Haji tahun Be ( 31 Juli 1825 ), Pangeran Diponegoro mengirimkan surat perintah kepada rakyat Kedu yang berbunyi:
“Inilah soerat dari saja Kangdjeng Goesti Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkoeboemi di Ngajogjakarta kepada semua teman saja di Kedoe
Memberitahoekan bahwa negari Kedoe sekarang telah saja minta
Semoea orang, ja’ni semoea orang lelaki, perempoean, besar dan ketjil haroeslah mengetahoeinja
Adapoen orang jang telah mengetahoei surat oendangan saja ini hendaknja dengan segera menjediakan sendjata agar dapat mereboet negari dan membetoelkan agama Rosoel serta mereboet toedjoeh iman
Djika ada jang berani dan tidak maoe mempertjajai boenji soerat saja ini, pasti saja potong lehernja”  

Surat tersebut ditanggapi seluruh rakyat Kedu, hanya dua bulan setelah itu meletuslah peperangan besar di daerah kedu, hal itu disebutkan dalam surat Jenderal De Kock ( 28 September 1825 ) kepada Residen Kedu Loe Clereg, yang menyatakan bahwa dalam peperangan itu Pos Selatan Karesidenan Kedu, Kalijengking pada pagi hari diserbu pasukan jumlah besar, dan menewaskan Letnan Hilmer.



Kyai Surodipo anak buah Raden Tumenggung Mertowiryo dari desa Bendan, distrik Purbalingga, Kedu Selatan ikut ambil bagian dalam peperangan itu. Kyai Surodipo menempati Pos di distrik Jetis dan ditugaskan ikut membantu Pasukan Diponegoro untuk melawan Belanda di Parakan pada masa Bupati Raden Sumodilogo ( Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan ).
Sampai akhirnya Raden Sumodilogo tewas dibunuh oleh Demangnya sendiri yang bernama Setjapati, seperti disebut dalam autobiografi Pangeran Diponegoro yang berbunyi:
“....ing Kedoe wonte satoenggal - Raden Soemodilogo – ing Parakan nagrenipoen- ingkang tan sedijo goeripo “ , “ Mapan ladjeng ing nginggahan saking Ledhok Gowong Ika – Mas Toemenggoeng Ondoroko – ing Gowong Gadjah Premodo “. “ Ingkang dadijo pangridnjo - Mas Ronggo Prawirojoedo – ing Parakan sampoen prapto – noeljo pinethuk ing judho “ . “ Soemodilogo koetjiwo – mengokono sampoen palestro – ingkang medjahi poenika – pademangiro prijonggo “. “ Satjapati  namaniro – woes bedhah Parakan ika - .... “

Parakanpun bedah, pasukan Belanda hancur oleh perlawanan Pasukan Diponegoro bersama tewasnya Raden Sumodilogo. Maka Belanda menggunakan taktik lain yaitu dengan perang candu untuk melemahkan kekuatan generasi muda. Menangkap gelagat tidak baik ini Kyai Surodipo membawa prajuritnya menjauh dari pengaruh candu, dan membuat pos pertahanan di punggung Gunung Sindoro, dengan pertimbangan dari tempat tinggi tersebut dapat dengan mudah melihat pergerakan Belanda yang ada di bawahnya.
Namun suatu hari mata-mata Belanda mengetahui tempat persembunyian Kyai Surodipo dan prajuritnya, maka Belanda dengan pasukan yang besar  berangkat ke Gunung Sindoro untuk menyergapnya.

Alkisah, Kyai Surodipo memiliki peliharaan burung Jalak yang selalu ikut bendaranya kemanapun pergi, burung itu sangat jinak dan pomah ( dapat pulang sendiri kepada bendaranya meskipun dibiarkan terbang bebas ). Suatu siang burung Jalak tersebut pulang dari pengembaraannya mengitari lereng Gunung Sindoro, di tangan Kyai Surodipo burung itu mengoceh menirukan kata-kata orang Belanda, Kyai Surodipo segera tanggap, bahwa burung itu habis bertemu dengan orang Belanda.
Maka Kyai Surodipo segera mengajak para prajuritnya, untuk meninggalkan Pos Pertahanannya, dengan kesaktiannya ( Aji Panglimunan ) Kyai Surodipo membawa prajuritnya untuk bersembunyi dengan menembus Batu Kelir yang berada tak jauh dari Pos Pertahanan.

Firasat Kyai Surodipo ternyata benar, tidak berapa lama Pasukan Belanda datang, namun mendapati Pos Pertahanan itu telah kosong, maka dengan marahnya Belanda membakar Pos tersebut, lalu  pergi dengan tangan hampa.
Setelah dirasa cukup aman,  Kyai Surodipo keluar dari persembuyian di  Batu Kelir, ketika kembali Posnya ternyata hangus terbakar dan telah rata dengan tanah, segala perbekalan dan bahan panganpun musnah tak tersisa.

Merasa Pos Pertahanannya di punggung Sindoro itu telah diketahui musuh dan tidak aman lagi, maka Kyai Surodipo membawa prajuritnya menyusuri lereng Sindoro ke arah utara, dan membangun Pos Pertahanan baru di dekat air terjun, dimana mereka dengan mudah mendapatkan air untuk keperluan hidupnya,  tepatnya di desa Trocoh di bawah Gunung Prahu, air terjun tersebut sekarang dinamakan Curug Surodipo.

Akhirnya Pos yang berada di punggung Sindoro itu ditinggalkan dalam keadaan kosong dan gosong, seiring dengan perkembangan jaman daerah tersebut disebut POSONG, artinya Pos yang telah Gosong dibakar dan telah Kosong ditinggalkan, entah mana yang benar Pos-Gosong atau Pos-Kosong, namun yang jelas akronim dari keduanya sama-sama Posong.  


Ilustrasi
Dari atas ke bawah:  Penyergapan Pos Pertahanan Diponegoro oleh Belanda - Profil Prajurit Diponegoro - R. Adipati Holand Soemodilogo - Pertempuran Diponegoro di daerah Kedu.

Informasi:
Kini Posong tengah dipersiapkan oleh Pemkab. Temanggung sebagai Tempat Wisata andalan, Posong menyajikan fenomena keindahan alam, dari Posong anda dapat menikmati hamparan panorama menakjubkan, cakrawala ufuk timur berlatar belakang sembilan gunung, dan gugusan pegunungan kecil yang mengitarinya.
Pemandangan Posong lebih indah dinikmati saat Sunrise, tatkala matahari terbit memerah di ufuk timur.