Paris 22 Oktober 2012, Standing Ovation menggema di Auditorium 1 Markas Besar Unesco di Paris, tepuk tangan tidak kurang dari 1.200 penonton dari 129 negara seolah tiada hentinya, seperti sebuah keajaiban dari misi yang tadinya seperti mustahil dilakukan. Betapa tidak sebuah lakon " Banjarran Gatotkaca " yang dimainkan oleh Wayang Orang Indonesia Pusaka ini dipertunjukkan dalam konsep minikata, sedangkan pementasan lebih didominasi koreografi dan gestur pemain dan agak mengesampingkan antawacana. Penonton dengan perbedaan bahasa ternyata tidak butuh bahasa verbal untuk memahami keindahan tiap adegan demi adegan "Banjarran Gatotkaca".
Puncak keindahan yang memukau penonton itu terjadi ketika Gatotkaca gugur, setelah panah Adipati Karna menghujam ke tubuh Gatotkaca. Arimbi sang ibunda menagisi putranya dengan sesenggukan, sementara isteri tercinta hanya bisa tertunduk pilu. Bima ayahnda yang perkasapun tiada bisa berkata-kata, wajahnya menerawang jauh ke langit, mempertanyakan kebijakan para Dewa, kenapa harus terjadi kematian diantara keluarga Bharata. Iringan gamelan yang nglangut, membawa suasana yang menghanyutkan penonton.





