Tuesday, February 5, 2013

Kaki Lima dan Problema Kota



Di manapun tempatnya pedagang kaki lima ( PKL ) selalu membuat pusing Pemerintah Kota/ Kabupaten, masalahnya para PKL tersebut lebih senang mencegat konsumen dengan menempati jalur-jalur pedestrian kota, sehingga sangat mengganggu kebersihan, keindahan dan ketertiban kota. Pedestrian yang semestinya diperuntukkan pejalan kaki banyak yang tertutup lapak dagangan, sehingga hak-hak pejalan kaki dengan segala kenyamanan dan keamanannya terlanggar.
Padahal PKL ini adalah sebuah cerminan betapa pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja, usaha di kaki lima sebagai bentuk wira usaha warga masyarakat ekonomi lemah dalam mempertahankan hidup, di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan, sudah untung mereka bisa usaha mandiri tidak membebani pemerintah.

Monday, February 4, 2013

Awas Bom Waktu Sampah Bisa Meledak


Pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Pengelolaan sampah selama ini di kabupaten/ kota banyak yang belum sesuai dengan methode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan, sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.
Pemandangan yang sering kita lihat di media massa terkait problematika sampah sangat jelas, contoh  longsornya TPA Leuwigajah, Bencana Darurat Sampah Kota Bandung, Langganan Banjir di beberapa wilayah Jakarta, adalah sebagian contoh lokal tentang bencana akibat sampah.
Sehingga kalau terakumulasi tingkat Nasional bukan tidak mungkin sampah akan menjadi Bom Waktu yang akan meledak menjadi bencana nasional, maka perlu dilakukan langkah pengelolaan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberi manfaat dan aman bagi lingkungan, serta merubah perilaku masyarakat. Karena Perilaku masyarakat yang masih berpikir dengan paragdigma lama, yaitu memperlakukan sampah cuma sebagai barang buangan tanpa melakukan upaya 3R ( Reduce, Reuse dan Recycle ) berpotensi menciptakan bom waktu seperti darurat sampah di Bandung.
Tingginya anggaran untuk biaya pembuangan sampah dari sumber  serta operasional di Tempat Pemrosesan Akhir ( TPA ) juga suatu masalah yang dari tahun ke tahun tidak semakin berkurang, kalau pembuangan sampah masih saja mengandalkan pada TPA, dan bisa saja kejadian macam Leuwigajah akan terus berulang. 

Sunday, February 3, 2013

Dialog Budaya di Pendopo Pengayoman Temanggung



Budaya berasal dari kata buddhayah, merupakan bentuk jamak dari buddhi ( budi atau akal ), yang berarti hala-hal yang berkaitan dengan akal budi.
Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari unsur yang rumit, sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa dan karya seni yang tak terpisahkan dari diri dan cara hidup manusia, sehingga dianggap warisan genetis.
Unsur sosio-budaya tersebar dan meliputi kegiatan sosial manusia, menjadi pola hidup bersifat kompleks, abstrak dan luas.
Kebudayaan memang erat hubungannya dengan masyarakat, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, menurut Melville J.Herskovits ( Cultural Determinism  ), Herskovits juga berpandangan bahwa kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari generasi ke generasi ( superorganic )
Sedangkan Andreas Eppink mempunyai pendapat bahwa kebudayaan mengandung seluruh pengertian nilai sosial, norma, ilmu pengetahuan serta struktur sosial, religius dan pernyataan intelektual, artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Hampir sama dengan teori Edward Burnett Tylor, yang mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, mengadung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat.
Apapun teori dari beberapa ahli, Prof. Selo Soemardjan menyimpulkan secara simple, mudah dilogika dan relevan dengan apa yang kita telusur ini " Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat ". 

Friday, February 1, 2013

Radio Kayu Made in Temanggung



Adalah Singgih Susilo Kartono, pria kelahiran Temanggung Jawa Tengah ini tak banyak orang mengenalnya, bahkan di kota kelahirannya sendiri, namun siapa sangka di mancanegara justru banyak jadi perbincangan, tentu saja bukan perbincangan negatif. Karena kreatifitas dan inovasinya, yaitu karyanya radio kayu dengan merk " Magno " berhasil menarik perhatian, dan diburu para kolektor.
Singgih sarjana seni rupa lulusan ITB ini, mulai membuat desain radio dengan bahan dasar kayu sebagai casing pada tahun 1997, lalu mengisi perangkat elektroniknya dengan peralatan dari Panasonic yang dibeli di toko, dan idepun terus berkembang, aneka desainpun dibuatnya.
Mencoba peruntungan Singgih menampilkan dan memasarkan hasil karyanya di media online, tidak disangka karyanya itu menarik banyak pihak, pasarpun menyambuk baik.
Melihat hal itu Singgih makin optimis dan bersemangat mengembangkan desain produknya, rupanya permintaan pasarpun mengalir, diapun berharap produksi radionya akan mendorong pengembangan sosial di kampungnya, Dusun Krajan, Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.  

Wednesday, January 30, 2013

Buah Kledung yang Terlupakan



Saat masih anak-anak,  sekitar tahun 70an, ketika jajanan bocah belum diserbu oleh makanan kemasan, baik itu jajanan cemilan maupun buah-buahan impor, di pasar-pasar tradisional anak-anak masih bisa menemui buah-buahan murah seperti Jeruk Wedus, Jeruk Uwik, Pelem Blenyik, Kepel, Sawo Ijo, Buah Kledung dan buah-buahan lain dengan istilah Temanggungan. Sekarang hanya tinggal kenangan, karena buah-buahan tersebut sudah sulit ditemui, sudah jadi barang langka dan tidak dikenal lagi oleh generasi masa kini, sungguh sayang sekali.
Kali ini saya ingin fokuskan tulisan ini ke Buah Kledung, di daerah lain buah ini lebih dikenal dengan sebutan buah Kesemek atau Persimmon, kenapa di wilayah Temanggung lebih dikenal dengan nama Buah Kledung ?
Karena buah yang satu ini dahulu banyak tumbuh di desa Kledung, sebuah desa yang berada di kaki Gunung Sumbing, kalau anda tengah dalam perjalanan dari Wonosobo ke Temanggung, tentu anda akan melewati desa ini, karena berada tepat di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, anda boleh mampir sejenak di sebuah Rest Area yang dibangun di lokasi itu, sembari menikmati panorama Gunung Sumbing - Sindoro yang sangat indah.

Friday, December 7, 2012

Liyangan Kota yang Hilang


Gunung Sindoro yang terlihat tenang dan anggun ternyata menyimpan seribu mistery, Bemmelen seorang peneliti Belanda mengatakan bahwa, pada tahun 1600 - 1617 Sindoro pernah meletus dengan hebatnya dan meluluh-lantakkan desa-desa yang berada di kakinya, hal ini yang diperkirakan telah mengubur Situs Liyangan sedalam 10 M di bawah permukaan tanah. Tapi hal ini ditepis oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian ( BPPTK ), menurut BPPTK berdasarkan analisa Liyangan terkubur akibat erupsi Sindoro tahun 971 Masehi, terbukti penemuan benda purbakala di lokasi itu berciri khas bangunan masa Mataram Kuno abad IX. 
Situs Liyangan berupa perkampungan Mataram Kuno yang berada di ketinggian 1.200 dpl pada lereng gunung Sindoro, penemuan benda arkeologis di Liyangan tidak hanya berupa candi, namun juga terdapat tempat peribadatan, perkampungan dan lahan pertanian kuno. Liyangan adalah sebuah kota yang hilang selama berabad-abad dan baru terkuak ke permukaan akibat penambangan pasir liar pada tahun 2008. 

Monday, December 3, 2012

Borobudur Jazz Festival 2012




Pelataran barat candi Borobudur, tepatnya di lapangan Lumbini pada Rabu malam ( 28/11/2012 ) yang baru lalu, menjadi area yang mengasyikkan bagi pecinta musik Jazz, untuk kali kedua di tempat yang sama digelar event selalu dinantikan penikmat musik yang satu ini. Ya, saat itu memang sedang berlangsung " Borobudur Jazz Festival 2012 ". Sejumlah musisi dan penyanyi jazz negeri ini ikut menyemarakkan, mereka adalah  Syaharani, Duo Endah 'n Resha, Matthew Sayersz, Ecky Lamoh, Everyday Jazz Jogja, Groovinstreet, dan Jasmine Jazz, tampil secara bergantian dengan indahnya. 
Tak hanya pecinta jazz dalam negeri saja yang hadir, festival ini juga menarik perhatian sejumlah wisatawan manca negara yang ikut bergabung bersama-sama di lapangan Lumbini, menikmati sajian setiap penampil, lagu demi lagu hingga usai, sayang sekali kalau event ini terlewatkan, penyelenggaraan acara dengan frekuensi setahun sekali ini.