Saturday, May 19, 2012

Kerajinan Bambu Cendani dari Celah Gunung Sindoro dan Gunung Prahu



Matahari baru saja terbit di ufuk timur, dengan sinar kuning keemasan, pagi masih dingin di sebuah daerah terpencil di celah gunung Sindoro dan gunung Prahu, namun masyarakat Desa Wates Kecamatan Wonoboyo Kabupaten Temanggung telah sudah tampak sibuk, menyongsong sinar keemasan matahari pagi itu dengan penuh harapan, ada yang pergi ke sawah dan ladang , ada pula yang berangkat ke pasar membawa hasil bumi. 
Namun ada juga beberapa warga masyarakat yang memulai aktifitas pagi itu dengan kegiatan yang tidak seperti warga lainnya. Sekelompok warga desa yang tergabung dalam Gapoktan Gemah Ripah tengah memulai sebuah harapan baru,  tidak disangka di daerah terpencil itu telah tumbuh sekelompok pengrajin yang memproduksi aneka furniture dan handy craft dari Bambu Cendani.

Thursday, May 3, 2012

Dari Mata Air Jumprit Temanggung ke Borobudur



Dalam rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2556 BE tahun 2012 yang jatuh pada hari Minggu 6 Mei, pada hari Jumat 4 Mei telah dilakukan pengambilan air suci dari mata air sungai Progo Jumprit, pengambilan air suci ini dilakukan oleh para bhiku dan bhikuni dari berbagai Sangha.
Jumprit terletak di Kecamatan Ngadirejo, 26 km dari kota Temanggung, Jawa Tengah, Jumprit terletak pada ketinggian ±800 m dari permukaan laut, udara di tempat ini sangat sejuk dan airnya menyegarkan, itulah sebagian alasan kenapa pengambilan air suci dari Jumprit, mata air sungai Progo ini masih alami, bersih, higienis dan belum tercemar polusi. 
Di kawasan Jumprit selain sering dijadikan tempat ritual pengambilan air suci juga terdapat hutan wisata, serta tempat wisata spiritual, karena berdekatan dengan mata air itu terdapat sebuah petilasan Nujum Majapahit, atau lebih di kenal dengan nama Ki Ageng Jumrpit, banyak peziarah yang sering melakukan meditasi untuk memperoleh energi sipiritual atau keperluan-keperluan lain. Jumprit bisa dijangkau dari Wonosobo, Kendal dan Temanggung dengan mudah.

Wednesday, May 2, 2012

Tradisi Jemuah Pahingan di Masjid Menggoro Temanggung



Sebuah tradisi unik sejak dahulu hanya ada di Masjid Menggoro Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, tradisi yang bisa dijadikan Wisata Religi, yaitu Malam Jemuah Pahingan atau Malam Jum'at Pahing, pada malam itu banyak pengunjung yang datang ke desa yang berada di Lereng Gunung Sumbing ini, berdasarkan catatan pengurus Masjid dan informasi masyarakat setempat pengunjung yang datang kebanyakan dari luar kota seperti Kendal, Pekalongan, Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, bahkan ada yang datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Monday, April 30, 2012

Lawang Sewu Film Festival 2012





KSS Gelar Lawang Sewu Film Festival
Untuk mengangkat perfilman nasional dan mewadahi sineas-sineas muda supaya tidak takut mengekspresikan karyanya, Komunitas Sinema Semarang ( KSS ) menggelar Lawang Sewu Film Festival 2012 tingkat nasional. Kegiatan bertema " Dengan Lensa Berbagi Cerita "

Wednesday, April 25, 2012

Candi Borobudur Dibangun di atas Danau Kedu Purba




Sebuah penelitian ahli memperkirakan bahwa Candi  Borobudur ternyata dibangun di atas dasar danau purba yang telah mengering, Candi Borobudur berdiri pada sebuah bukit yang berada di tengahnya dengan ketinggian 265 M (870 kaki) dari permukaan laut dan 15 M (49 kaki ). Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan ada beberapa dugaan yang masih menjadi polemik apakah Borobudur dibangun di tepi atau di tengah danau. Pada 1931 di dataran Kedu, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha WOJ Nieuwenkamp mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha; seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. 

Wednesday, April 18, 2012

Mencintai Bumi Setiap Hari



Bagaimana nasib manusia ketika alam tak lagi bersahabat ?
Adakah tempat lain untuk singgah yang senyaman dan seindah di bumi ?
Sebelum terlambat, mari bertindak untuk kelangsungan hidup kita semua .

Sebagai satu-satunya planet dalam tata surya yang dapat dihuni manusia, bumi memegang peranan penting dalam kehidupan kita.Segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi oleh sumber daya alam bumi. Namun seiring bertambahnya jumlah manusia yang makin hari kian membengkak, makin tinggi pula permasalahan yang dihadapi oleh bumi.

Tuesday, April 17, 2012

Dialek Khas Temanggungan Tergusur Bahasa Gaul



" Ndais de'e tombok'ane ora teyeng, salahe nggatis wae "
" Ah mberuh nyong ora mudheng, ora teyeng ha mbok jidhor "
" Sikak de'e domongi malah metengsel "
Ini adalah sekelumit dialek khas yang masih acapkali kita temui dalam pembicaraan warga pedusunan di lereng gunung Sumbing-Sindoro, namun di wilayah perkotaan Temanggung sudah jarang ditemui, bahkan banyak anak muda di Temanggung yang tidak tahu istilah-istilah seperti Ndais, nggatis, jidhor, sikak dan sebagainya.
Dialek Temanggungan pada dasarnya adalah bahasa khas masyarakat di lereng gunung Sumbing-Sindoro lebih banyak dijumpai di daerah Parakan. Dialek Temanggungan sebenarnya banyak dipengaruhi dialek Mataram Jogja, namun makin kearah barat dari wilayah Temanggung sampai di Parakan mulai terpengaruh logat Banyumasan, hampir sama bahasanya namun tidak sampai medhok seperti Banyumasan asli,  misalnya kata ganti orang pertama tunggal “aku“ diucapkan “nyong“,  kamu dengan “dé’é“ sedangkan di Banyumas “déké“,  cuma beda pada gaya pengucapan dan penekanan intonasinya,  orang Temanggung mengucapkan  kata Parakan dengan Para’an.
Anak muda Temanggung kini sudah jarang yang menggunakan bahasa khas ini, mereka lebih banyak menggunakan bahasa gaul Jakartenan ( ala Jakarte ), namun kalau anda bertandang ke Parakan atau ke pedesaan lereng Sindoro–Sumbing masih bisa menjumpai percakapan yang menggunakan dialek khas ini.
Berikut ini sebagai contoh kami  sajikan logat kecil bahasa khas daerah Temanggungan, selebihnya dari apa yang tersaji ini bahasa daerah yang digunakan sama dengan bahasa Jawa di daerah lain.