Monday, December 12, 2011

Sindoro disayang, Sindoro meradang

                                                                                                                                                                       
Sejak bulan November ini Pos pengamatan Gunung Sindoro yang terletak di desa Gentingsari Kecamatan Bansari Kabupaten Temanggung Jawa Tengah mendadak ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru, ingin melihat dari dekat keadaan Sindoro, gunung yang selama ini disayang karena panorama keindahannya, tanahnya yang subur di lereng gunung itu telah memberikan kehidupan dari aneka hasil pertanian, terutama tanaman tembakau yang pada bulan-bulan terakhir ini baru saja memberikan panen emasnya, namun di bulan terakhir ini juga tepatnya mulai Oktober 2011 gunung Sindoro mendadak meradang, karena semakin meningkat aktifitas  vulkaniknya, dengan munculnya kawah-kawah baru yang tak terhitung jumlahnya, sejak 2 Desember 2011 terjadi peningkatan suhu dan keluarnya asap-asap fumarol yang merambat ke puncak.
Dan sejak Senin malam 5 Desember 2011 dari status normal ditetapkan menjadi Waspada II.


Senin malam itu (5/12) juga Pemerintah Kabupaten Temanggung mengumpulkan para camat yang wilayahnya disekitar Sindoro seperti Camat Kledung, Bansari, Parakan, Ngadirejo dan Candiroto, untuk mengambil langkah-langkah cepat dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat agar tetap tenang sambil menunggu informasi  dan perkembangan lebih lanjut.

Berdasarkan data seismik dari Pos Pengamatan Gunung Sumbing - Sindoro di desa Gentingsari, didapatkan data sebagai berikut:
  • Tanggal 6 Desember terjadi gempa vulkanik 4 kali, tektonik 1 kali dan hembusan 4 kali.
  • Tanggal 7 Desember terjadi gempa vulkanik 1 kali, vulkanik dangkal 2 kali, vulkanik lokal 1 kali, tektonik jauh 2 kali, dan hembusan 6 kali 
  • Tanggal 8 Desember terjadi gempa tektonik lokal 1 kali, tektonik jauh 1 kali dan hembusan 11 kali
 
Kasubid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, mengatakan, meskipun aktivitas kegempaan cenderung menurun, status Gunung Sindoro belum diturunkan. Menurut dia, penurunan aktivitas itu hal yang biasa. Namun, sewaktu-waktu bisa saja meningkat lagi.

Pemasangan alat berupa minidoas untuk mengukur kadar SO2 dan elektrinic distance measurement (EDM)  telah dilakukan  untuk mengetahui perkembangan penggemukan gunung.




Menurut peta sebaran aliran lava yang ada di pos pemantau Sindoro - Sumbing wilayah  yang berada di kawasan rawan bencana III bisa saja terancam terkena aliran lava, gas beracun, awan panas, hujan abu lebat dan lontaran batu pijar.
Adapun  yang berada di kawasan rawan bencana II  terancam aliran lava, lahar hujan, awan panas, hujan abu lebat dan lontaran batu pijar.
Untuk kawasan rawan bencana I berpotensi terlanda aliran lahar, hujan abu dan terkena lontaran batu pijar.

Kepala Sub Bidang Evaluasi Potensi Bencana Gunung Api Badan Geologi Agus Budianto mengatakan, selama 40 tahun Gunung Sindoro "tertidur" dan pada Oktober 2011 gunung tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas.
Menurut dia, aktivitas gunung tersebut termasuk dalam status yang bagus karena tidak langsung meletus, melainkan bertahap sedikit demi sedikit, sehingga memudahkan petugas dalam memantau gunung tersebut.
"Kami tidak berharap gunung ini menunjukkan aktivitasnya yang maksimal, di sini kami bertugas untuk memantau aktivitas gunung dan menyampaikan langsung kepada masyarakat," katanya.
Ia berharap, masyarakat tidak panik dan tidak mudah terbawa isu mengenai Gunung Sindoro saat ini. Aktivitas Gunung Sindoro merupakan hal yang wajar sebagai gunung api.
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya.
Masyarakat, katanya, tidak perlu panik dan terus terus mencari informasi perkembangan aktivitas Gunung Sindoro kepada pihak yang berkompeten.
"Kepada aparat desa kami meminta agar terus melakukan pendataan terhadap penduduknya, serta menyiapkan tempat-tempat pengunsian serta jalur evakuasi dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kami akan terus mendampingi aparat desa untuk meyakinkan masyarakat," katanya.


Terkait dengan hal itu warga lereng Gunung Sindoro di Desa Gunungsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Minggu (11/12), menggelar istighatsah untuk mohon keselamatan kepada Tuhan menyusul peningkatan kegiatan vulkanik gunung itu dari aktif normal ke waspada.
Istighatsah di Madrasah Al-Ishlah Gunungsari itu dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Temanggung Yakub Mubarok dengan diikuti ratusan orang.
Ia mengatakan, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Sindoro merupakan salah satu kekuasaan Allah sehingga sebagai umat beragama wajib memohon keselamatan dari kemungkinan bencana alam itu.
"Hanya Allah yang tahu, kita sebagai umant-Nya hanya bisa memohon dan berdoa agar terhindar dari mara bahaya," katanya.

Siapa yang menduga, gunung Sindoro yang mengagumkan karena keindahan dan kesuburannya itu kini mencemaskan banyak orang.