Wednesday, May 2, 2012

Tradisi Jemuah Pahingan di Masjid Menggoro Temanggung



Sebuah tradisi unik sejak dahulu hanya ada di Masjid Menggoro Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, tradisi yang bisa dijadikan Wisata Religi, yaitu Malam Jemuah Pahingan atau Malam Jum'at Pahing, pada malam itu banyak pengunjung yang datang ke desa yang berada di Lereng Gunung Sumbing ini, berdasarkan catatan pengurus Masjid dan informasi masyarakat setempat pengunjung yang datang kebanyakan dari luar kota seperti Kendal, Pekalongan, Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, bahkan ada yang datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur.


Sebenarnya yang terjadi tidak berbeda dengan di masjid-masjid lain di setiap malam Jum'at, yang memang sering mengadakan ritual Mujahadah, berdzikir dan memohon kehadhirat Allah untuk memohon keselamatan, kesehatan dan limpahan rejeki yang halal dan barokah. Mujahadah di Masjid Menggoro juga juga tak jauh beda, ada yang  dilakukanpun secara kelompok, namun ada juga yang perorangan, seperti yang dilakukan oleh para pendatang dari luar kota itu.
Biasanya pengunjung dari luar kota ini datang untuk melunaskan nadzarnya, misalnya " Kalau besok saya atau anak saya sembuh dari sakit, atau besok kalau usaha saya berhasil dan sebagainya, saya akan  Jemuah Pahingan di Masjid Menggoro ", begitu kira-kira. Memang yang namanya nadzar kalau sudah diikrarkan, apalagi ikrar di hadapan Allah maka hukumnya wajib dilaksanakan. Itulah sebabnya mereka datang jauh-jauh karena berniat melaksanakan nadzar.


Sehingga pada malam Jemuah Pahing di desa Menggoro khususnya di lingkungan Masjid menjadi ramai, bahkan di tiap malam Jum'at Pahing digelar Pasar Malam di sebuah pelataran yang cukup luas di depan Masjid. Yang tersedia di Pasar Malampun macam-macam, ada jajan pasar seperti onde-onde, kue cucur, jagung bakar sampai makanan khas seperti tahu kupat, brongkos kikil dan sebaginya. Mainan anak-anakpun juga bermacam-macam tentu saja disediakan untuk pengunjung yang mengajak anak-anaknya.
Untuk melengkapi nadzarnya biasanya mereka akan membeli kembang boreh, yaitu serangkaian bunga mawar dan rajangan daun pandan yang diberi boreh yang dibuat dari enjet atau kapur yang diberi warna kuning, enmjet ini akan ditorehkan pada bagian tubuh sesuai niatnya, misalnya di daun telinga, leher atau kaki dan sebagainya. Kemudian sisanya kembang boreh ini biasanya diletakkan pada tempat-tempat tertentu seperti di perempatan jalan, di sendang dan sebagainya. Memang hal ini mirip sesaji seperti yang dilakukan Umat Hindu atau Budha, ini menandakan bahwa masih ada dinamisme dalam masyarakat, yang merupakan akulturisasi dari budaya Hindu, Budha dan Islam, pergeseran budaya yang belum seratus persen berubah ke dalam nilai-nilai Islami, masih ada kultur Hindu yang melekat.



Sebuah tinjauan histories menyebutkan ada dua sumber yang mendasari dugaan itu, yaitu sumber Artefaktual dan Tekstual.
Data artefaktual ditunjukkan dengan:
  1. Bentuk dan struktur bangunan masjid (utamanya bagian dalam), mengindikasikan pola arsitektur masa pertumbuhan islam di Jawa;
  2. Dua buah patung nandini ( patung sapi betina ) yang sudah terpotong kepalanya, terletak di halaman masjid, menunjukan bahwa kawasan itu pada masa silam, ada keterkaitannya dengan kultur agama sebelum islam yakni Hindu;
  3. Dua buah pohon tanjung dihalaman depan masjid, yang dulu ( mestinya ) juga ada pohon sawo kecik dan kelor. penanaman dan penempatan pohon itu menandakan adanya beberapa benda dikompleks masjid, yang mempertimbangkan konsep maknawi dalam kebudayaan Jawa;
  4. Candrasengkala ( rangkaian kata yang menunjukan angka tahun ) berbunyi : Rasa Brahmana Resi Bumi yang tertulis digapura masuk halaman masjid, bermakna angka tahun 1786, yang kalau menurut hitungan tahun saka atau Masehi dikurangi 78 ( selisih tahun saka dengan masehi ) menjadi 1708 Masehi ( masa penjajahan Belanda ). Bentuk gapura berornamen garis gaya bangunan Belanda, sehingga agak mendekati kebenaran bahwa pembangunan gapura tersebut terjadi pada masa penjajahan Belanda;
  5. Bentuk pelataran masjid yang sama dengan dasar bangunan-bangunan ibadah atau pemujaan agama Hindu. Melihat latar belakang sejarah yang demikian menunjukan bahwa eksistensi masjid Menggoro sudah ada sejak masa pertumbuhan islam di Jawa sehingga dapat dikatakan bahwa Masjid Menggoro Tembarak Kabupaten Temanggung termasuk masjid tertua di Jawa. 
Sedangkan data yang bersifat tekstual antara lain seperti : prasati, babad, catatan harian, kisah perjalanan, surat-surat keputusan dan lainya, tentang saat dibangunnya Masjid Menggoro. Beberapa pendapat tokoh masyarakat setempat, dan berdasarkan cerita turun menurun maupun legenda, dapat juga dijadikan salah satu acuan pemotretan masa silam Masjid Menggoro, sejarah keberadaan Masjid Menggoro diceritakan dalam 2 (dua) versi:
  1. Terkait dengan tokoh Nyai Brintik, sebagai penyebar agama Islam di wilayah itu, yang konon makamnya ada di 2 (dua) tempat yakni di desa Jogopati Tembarak dan satunya di Komplek Makam Sewu atau Komplek Makam Panembahan Bodho yang terletak di Kabupaten Bantul di Propinsi DIY;
  2. Dihubungkan dengan tokoh Sunan Kalijaga salah satu anggota Wali Sanga di masa Keraton Demak Bintoro. Dalam salah satu perjalanan syiar Islam di Jawa Tengah sampai di wilayah ini, kemudian  beliau  mendirikan masjid, yang diyakini  sebagai Masjid Jami' Menggoro.
Hal ini semakin menguatkan pendapat bahwa keberadaan Masjid Menggoro Tembarak, erat sekali kaitnya dengan pusat kebijaksanaan perkembangan agama Islam pada masa pertumbuhannya di tanah Jawa, yakni Demak Bintoro di bawah kendali Raden Patah (raja pemeluk Islam pertama di Jawa) dan dibawah pertimbangan para wali. 
Upaya penyelamatan bangunan dilakukan dengan renovasi tanpa menghilangkan ciri khas bangunan pernah dilakukan pada Tahun 1932 yang dipimpin langsung oleh Bupati Temanggung Cokrosoetomo, Tahun 1958 dilakukan Pemugaran, dan Tahun 1989 dilakukan renovasi.
Mimbar Khotbah yang serupa dengan mimbar di keraton Ngayogyakarta, karena sudah usang dan rusak maka telah diganti baru. Upaya-upaya penyelamatan ini merupakan pelestarian, agar keberadaan masjid tersebut sebagai situs dan bangunan cagar budaya tidak kehilangan unsur-unsur pendukung histories, yang merupakan ciri khas dan mempunyai keunikan tersendiri, walaupun disana-sini telah mengalami beberapa perubahan seiring perkembangan jaman.