Tuesday, August 9, 2011

Jembatan Kali Progo yang menyimpan mistery

Tabur Bunga di Jembatan Kali Progo 




Kali Progo sebuah sungai yang bermataair di Jumprit Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung Jawa Tengah Indonesia, termasuk sungai yang tidak biasa di pulau Jawa, karena diantara beberapa sungai mengalir ke laut Jawa, sedangkan Kali Progo mengalir ke Samudera Indonesia, sepanjang 200 Km menyusuri wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang, Sleman, Kulon Progo dan Bantul hingga akhirnya bermuara di Samudera Indonesia.
Di tahun 1948 - 1949 sungai ini pernah berwarna merah mengalirkan darah para pejuang, jembatan yang dibangun diatasnya pada tahun 1900 adalah saksi bisu peristiwa mengerikan itu, saat tentara Belanda putus asa menghadapi perlawanan hebat dari putra-putra terbaik Temanggung, akhirnya Belanda melakukan aksi diluar aturan peperangan.

Desember 1948 kota Temanggung dikuasai Belanda, saat itu pasukan KNIL dibawah pimpinan Van Der Zee melakukan penangkapan besar-besaran kepada siapa saja yang dicurigai melawan Belanda, para pejuang dari TNI, kelaskaran atau Tentara Pelajar, bahkan rakyat biasa ditangkap dan dipenjarakan di IVG ( sekarang di Jl Setiabudi Temanggung ), di dalam ruang sel yang penuh dengan tahanan itu juga terdapat pasukan Siliwangi dan ALRI, setiap malam hari di tempat itu terdengar teriakan dari para tahanan yang disiksa, mereka  diinterogasi satu persatu dan mendapat perlakuan yang biadab dan diluar peri kemanusiaan,  dalam menginterogasi itu para KNIL dibantu oleh " Po Ang Tjui " pasukan keamanan semacam Hansip yang terdiri dari orang-orang keturunan Cina, banyak diantara tahanan yang tidak kembali lagi ke sel,  para pejuang itu dibawa dengan Jeep ke arah timur kota Temanggung, diatas jembatan Kali Progo inilah satu persatu para Syuhada dieksekusi dengan berbagai cara, antara lain dengan dipacung atau di tembak pada bagian kepala, setelah itu korban didorong dengan kaki dan dijatuhkan begitu saja dari atas jembatan dengan ketinggian hampir 50 M

Setiap hari lokasi pembantaian tersebut selalu dijaga oleh KNIL dari kesatuan V Brigade ( Vossen Brigade - Anjing NICA ), menurut kesaksian Moh Sholeh tahanan yang selamat dari pembantaian tersebut, jumlah korban mencapai ribuan, karena ia sendiri menandatangani pengakuan di IVG pada urutan 1.390, dan setelah itupun KNIL masih melakukan penangkapan-penangkapan lagi, sumber lain Bambang Poernomo menyebutkan jumlah korban diperkirakan mencapai 1.600 orang.
Gedung IVG merupakan markas Brigade Anjing Merah yang keganasannya dikenal luar biasa, sebagian sumber mengatakan gedung ini juga digunakan sebagai markas Brigade Gajah Putih dan Brigade Anjing Hitam.
Komandan IVG adalah Lettu Van Der Zee yang dalam operasinya dibantu oleh Go Ing Liem, tokoh ini yang sering memberi informasi dan menunjukkan siapa-siapa saja pejuang atau warga biasa yang harus ditangkap.

Ada sebuah desa bernama Plumbon, berjarak tiga setengah kilometer dari jembatan Progo, pada saat peristiwa itu berlangsung hampir tiap pagi warga desa itu menyaksikan mayat mengambang di sungai, kebanyakan para korban itu adalah laki-laki usia muda, tidak selalu berpakaian tentara karena ada juga yang berpakaian rakyat jelata, bahkan dari penuturan seorang saksi bernama Sudargo warga setempat pernah melihat tiga sosok mayat dalam satu ikatan tali ijuk yang sudah tidak berkepala hanyut di aliran sungai Progo.

Sebagian dari para korban pembantaian KNIL di Jembatan Kali Progo yang terdata adalah:
1. Sarno Samsiatmodjo, Nglarangan Kedu
2. Suyitno, Kranggan
3. Singgih, Kranggan
4. Suprapto, Kranggan
5. Mohamad Kartono, Kranggan
6. Mohamad Ibrahim, Kranggan
7. Patah, Prapag Kranggan
8. Soengkono, Kasanan Kranggan
9. Ilyas Hardjo Sumarto, Sanggrahan
10. Darjo, Gentan
11. Ranu Didjojo, Gentan
12. Kertonjoto, Sanggrahan
13. Dulkijab, Sanggrahan
14. Bingu, Sanggrahan
15. Amat Toha, Sanggrahan
16. Madijono, Kowangan
17. Suwarto, Sanggrahan
18. H. Jasin, Prapag Kranggan
19. Karmin, Dongkelan Temanggung
20. Mugowi, Greges
21. Riduwan, Pendowo
22. Ayah Patah, Dayakan Kranggan
23. Taat, Ambahrawa
24. Ribut, Temanggung
25. Sumaidin, Parakan 
26. Sastro Basri, Padangan Temanggung
27. Abu Endar, Dongkelan Lor
28. Djoewandi, Rolikuran
29. Niti Sandung, Dongkelan Kidul
30. Wan Said, Dongkelan Kidul
31. Naken, Butuh Temanggung
32. Setu, Sayangan Temanggung
33. Pangat, Kertosari Temanggung
34. Sadam, Ploso Temanggung
35. Kertomodo, Kaloran
36. Tugi, Kaloran
37. Palil, Kaloran
38. Maryono, ( tidak diketahui alamatnya )
39. Kayadi, ( tidak diketahui alamatnya )
40. Wagiman, ( tidak diketahui alamatnya )

Dan masih banyak lagi korban yang tidak diketahui identitasnya, sungguh peristiwa yang mengerikan. Jembatan Kali Progo adalah saksi sejarah perjuangan bangsa, para korban yang jatuh adalah bunga-bunga bangsa yang berguguran mewangi di haribaan Ibu Pertiwi, sungguh berdosa kita sebagai generasi penerus tidak menghargai perjuangan mereka dengan mencabik-cabik NKRI yang mereka dirikan dengan darah dan air mata.

Jembatan Progo berada  sekitar 4 kilometer dari pusat kota Temanggung, kalau kita masuk kota Temanggung dari arah Yogyakarta atau Semarang, kita masih melihat Jembatan itu berdiri kokoh, bersebelahan dengan makam pahlawan, ada sebuah Prasasti yang tertulis di Monumen Progo disitu:

Aku ta' ketjewa..........
aku rela.............
mati untuk tjita2
sutji nan mulja
indonesia merdeka
adil, makmur, bahagia

temanggung
22/12-'48 - 10/8-'49.  

Ex Gedung IVG  di Jl Setiabudi Temanggung tempat para pejuang dipenjarakan,
 sayangnya bangunan cagar budaya dan bersejarah ini kini telah diratakan dengan 
tanah untuk kepentingan yang belum jelas.


2 comments:

  1. Senang sekali bisa melihat foto-foto lama tentang Kota Temanggung, karena sepengetahuan sy di kota Temanggung sangat sedikit atau hampir tidak ada yang namanya bangunan cagar budaya, matur suwun pak Arcom...

    ReplyDelete
  2. wah sayang sekali bangunan IVG nya dihancur ratakan, memang kepentingan sepenting apa sih yang segitunya sampe menghilangkan bangunan sejarah. tetap beritakan tentang Temanggung ya pa, makasiiih

    ReplyDelete