Wednesday, April 4, 2012

Rambut Gembel Menjadi Juara



Membiarkan anak berambut gembel ( gimbal ) ala Bob Marley atau Mbah Surip dalam masyarakat di lereng gunung Sumbing-Sindoro sudah menjadi hal yang biasa sejak dulu, coba anda sesekali mengunjungi di daerah itu, anda akan melihat anak berambut gembel bermain sebagaimana anak desa lainnya. Memang rambut memelihara gembel sudah menjadi tradisi turun temurun, kalau orang tua melihat anak balitanya mempunyai tanda-tanda rambutnya akan gembel, maka ia tidak akan berani memotong rambut anaknya, dan akan dibiarkan sampai saat tertentu untuk melakukan pemotongan rambut, itupun disertai ritual yang disyaratkan, pada saat itu sang anak boleh menyampaikan apapun keinginannya, orang tuanyapun akan mengabulkan keinginan sang anak. Misalnya: ia mau dipotong rambutnya asal ditanggapkan wayang kulit. 

Sebuah foto berjudul " Ritual Rambut Gembel " karya fotografer Budi Prast dari Yogyakarta telah berhasil menjadi juara I lomba foto yang diselenggarakan oleh Java Promo, juara II diraih Bambang Irawan dari Magelang berjudul Ruwat Bumi, dan juara III diraih Anis Efizudin berjudul Merti Dusun.

 

Penanggung jawab lomba Bekti Priyono mengatakan, lomba ini diikuti oleh 257 fotografer yang mengikut sertakan karyanya sebanyak 1.017 lembar foto. Peserta berasal dari berbagai daerah, diantaranya dari Sorong, Papua, Sulawesi Utara,Sulawesi Barat, Balikpapan, Pontianak, Batam, Bali, Jakarta, Bandung dan kota-kota lain di Jawa. Kriteria obyek foto yang di tentukan adalah foto tentang wisata dan budaya yang berada di wilayah Java Promo.

Java Promo adalah lembaga kerja sama promosi wisata 15 kabupaten/ kota yang terdiri dari 9 kabupaten/ kota di Jawa tengah dan 6 kabupaten/kota di DIY, lembaga ini beranggotakan Bappeda, lembaga pemerintah yang menangani wisata serta LSM. Dalam loma kali ini Java Promo menunjuk 3 orang juri dari kalangan profesional seperti Herry Wiyanto, Tony Surya serta Wiyartono R (wartawan pariwisata harian Wawasan Semarang).



" Sebenarnya lomba ini berskala regional namun hasilnya nasional, karena jumlah karya yang ikut melebihi angka 1.000 padahal biasanya tidak pernah melewati angka 600 " kata Herry yang cukup puas dengan antusias peserta. Ia menambahkan bahwa karya yang masuk rata-rata bagus, bahkan ada yang bagus sekali dilihat dari sisi fotografi, sayangnya karya tersebut keluar dari tema yang ditentukan panitia penyelenggara.



Memang Herry, Tony dan Widiyartono mengaku pada tahap I penilaiannya hampir tejebak pada beberapa karya yang berkualitas bagus, karya tersebut telah masuk pada tahap II penilaian, namun pada penilaian lebih lanjut karya tersebut terpaksa digugurkan karena berfokus diluar anggota Java Promo, selain itu juga ada karya yang didrop karena terlambat pengirimannya melampaui jadwal yang ditetapkan, sayang sekali.


Bekti Priyono juga menambahkan, bahwa peserta kebanyakan masih terbelenggu pada obyek wisata yang telah populair, seperti pantai-pantai di DIY, Borobudur, Merapi, Dieng dan sebagainya, padahal juri telah terbiasa melihat karya seperti itu, sehingga dianggap biasa-biasa saja, ditambah lagi harapan Java Promo foto-foto yang diikut sertakan bisa mengangkat potensi wisata dan budaya yang belum tergali.
Lomba foto kali ini boleh dibilang cukup berhasil, diharapkan tahun depan akan ada lagi dan bisa memunculkan fotografer-fotografer baru berbakat, yang bisa membuat dunia fotografi makin banyak diminati dan menjadi lahan profesi, selamat dan sukses...atas penyelenggaraan event ini.